Iklan


Menu Bawah

Bersama Kemenkes dan Pakar, Diskusi DPP GMNI Bahas Peran Telemedicine Atasi Covid-19

Wednesday, May 13, 2020, 10:07:00 AM WIB Last Updated 2020-05-13T03:11:57Z

Moderator Fanda Puspitasari saat memandu jalannya diskusi online DPP GMNI

Jakarta - Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) mengadakan acara webinar atau diskusi online, Minggu (10/5/2020).

Mengundang Staf Khusus Menteri Kesehatan RI, dr. Mariya Mubarika, Guru Besar ITB dan sedang memimpin Tim Taskforce Nasional dibawah Koordinasi Ristek/BPPT Pengembangan Artificial Intelligence untuk Deteksi COVID-19, Prof. Bambang Riyanto Trilaksono, Chief of Medical Halodoc, dr. Irwan Heriyanto dan Dr. Connie Rahakundini Bakrie selaku Litbang Inovator 4.0 Indonesia, sebagai narasumber.

Diskusi garapan DPP GMNI Bidang Riset dan Teknologi. Dipandu moderator Fanda Puspitasari.

Dengan tema "Telemedicine: Covid-19 dan Revolusi Industri 4.0". Detailnya, membahas tentang pemanfaatan perkembangan teknologi di era 4.0, yang dapat memberikan solusi pelayanan kesehatan untuk daerah terpencil. Dimana fasilitas kesehatan belum memadai, berupa telemedicine.

Kelebihan utama layanan telemedicine adalah penggunaan teknologi untuk mengeliminasi batasan jarak dan geografis serta biaya yang terkait, khususnya untuk pelayanan medis di daerah terpencil yang kekurangan tenaga medis.

Dalam kondisi saat ini, banyak pihak-pihak yang berhasil mengambil keuntungan dengan melakukan disinformasi dan phising pada pandemic Covid-19. Dibutuhkan media yang diterima masyarakat dan dapat secara konsisten memberikan berita kesehatan yang jernih.

Telemedicine mampu secara konsisten memberitakan Covid-19 yang dibutuhkan masyarakat. Dan menjadi salah satu yang mampu membantu menghilangkan gap informasi, dimana banyak kesimpangsiuran informasi yang beredar di masyarakat.

"Karena itu telemedicine menjadi penting. Jika melihat dampak gap informasi bisa berdampak pada kedatangan gelombang ke-2, 3, dan 4 dari Covid-19. Dan Telemedicine membangun rumah sakit tanpa dinding," kata Dr Mariya.

Narasumber selanjutnya, Prof. Bambang menjelaskan tentang Artificial Intelligence (AI). AI dalam penanganan pandemi saat ini berperan untuk mendeteksi dan melawan Covid-19, yang juga mampu menekan risiko tenaga medis terpapar virus yang dikarenakan berinteraksi dengan pasien.

"Beberapa pemanfaatan AI untuk mendeteksi Covid-19. Yaitu pengukuran suhu dan pengenalan wajah. Dan juga mampu melawan Covid-19, seperti robot yang membawa Sinar UV untuk disinfektan virus. Robot juga mampu melakukan penyemprotan disinfektan dan juga drone untuk penyemprotan disinfektan," jelasnya.

Sementara Dr. Irwan, memaparkan tentang kebutuhan masyarakat di tengah kemajuan teknologi. Terutama di tengah pandemi saat ini.

Masyarakat di era Society 5.0, ketika sakit pun mengalami perubahan dalam patient journey. Dimana internet menjadi kebutuhan utama, mencari referensi obat maupun penanganan mandiri dan cepat.

"Seperti yang telah dilakukan startup Halodoc. Melakukan pelayanan dari konsultasi online sampai pada pengantaran obat ke rumah pasien dilakukan dengan teknologi. Terkecuali konsultasi yang memerlukan pemeriksaan langsung di rumah sakit. Dengan itu juga mengurangi risiko untuk terinfeksi Covid-19," ujarnya.

Dengan semakin banyak orang mengakses dan menggunakan telemedicine, diharapkan bisa mengumpulkan data mengenai penderita, PDP, ODP, bahkan Orang Tanpa Gejala (OTG) yang selengkap-lengkapnya.

Sehingga aplikasi ini bisa membantu pemerintah membuat kurva epidemi yang akurat dan bisa melakukan kebijakan yang tepat guna dan tepat sasaran.

"Karena jika kita melihat data jumlah penduduk Indonesia, sekitar 269 juta jiwa. Dan dokter umum 33.500 orang dan 105.147 orang, maka satu dokter/perawat akan menangani 1.944 orang penduduk. Di sini, dimana pentingnya telemedicine sangat membantu menjangkau masyarakat yang jauh dari akses fasilitas kesehatan," jelas Dr.Connie dalam paparannya.

Di akhir, Ketua Umum DPP GMNI Arjuna Putra Aldino menyampaikan, tentang telemdicine, memang harus ada grand design ataupun roadmap dari negara. Dan harus melibatkan banyak sektor termasuk pertahanan.

"Kita harus mendorong telemedicine ini dapat segera direalisasikan. Bukan hanya sekadar wacana, bukan hanya swasta yang melakukan pengembangan. Namun negera harus punya grand design serta melibatkan banyak sektor terutama pertahanan," kata ketum DPP GMNI yang terpilih bersama M. Ageng Dendy sebagai sekretaris jenderal (sekjen) pada Kongres GMNI di Ambon, Desember 2019 itu.
Komentar

Tampilkan

Terkini

Tips & Trik

+