Iklan


Menu Bawah

KAMU BUKAN JODOHKU

Thursday, July 26, 2018, 5:34:00 PM WIB Last Updated 2020-04-10T21:49:29Z
(Sumber Gambar: Nurul Islamiyah Tawil)

Siang hari itu, suasana disekitar Wisma Boalemo sangat bersahabat, langit yang indah mulai mendung, angin dari belakang menembus ke arah Wisma hingga memberi kenyamanan dan menambah keheningan bagi Obeng yang sedang melihat panorama alam semesta.

Tanpa terasa hari itu berlalu dengan cepat, dari kejauhan kelihatanya langit mulai redup di ufuk barat, cahaya matahari mulai tenggelam, langit jingga yang mengintari matahari memberikan pemandangan indah di senja hari. Keindahan alam sore hari menambah ketaqwaan seorang hamba kepada tuhannya disaat mereka merenungkannya. Inci demi inci cahaya matahari yang menerangi alam sekitar mulai tenggelam, alam semakin gelap pertanda datangnya waktu malam yang disusul oleh cahaya bulan yang menggantikan cahaya matahari.


Dalam keheningan, Obeng dikagetkan bunyi dering hand phone miliknya. Obeng pun mengambil hand phone yang sedang berdering. ( dalam hati ia bertanya-tanya “sipa sih yang menelpon” ) ternyata telpon dari dokter ala. Obeng lupa kalau dia ada pertemuan dengan dokter Alaludin Lapananda malam itu:

dr. Ala : “Assalamu'alaikum,,  Merdeka...!!!”

Obeng  : “Waalaikum'salam,,  Merdeka...!!!”

dr. Ala : “Bung Obeng kamu dimana?” tanya dr. Ala

Obeng   : “lagi di Wisma Boalemo dok”

dr. Ala : “aku di regal cafe..., aku tunggu kamu 5 menit dari sekarang...!” sahut dr. Ala

Obeng   : “siap dok... saya akan segera kesana...”


Aku langsung bersiap-siap dan kemudian pergi bertemu dengan dokter Alaludin yang sedang menunggu kedatanganku. Tak lama kemudian, aku telah sampai di warung kopi dan langsung berjabatangan sambil mengatakan “maaf dok sudah membuat dok menunggu”. “tidak apa-apa bung Obeng” sahut dokter sambil mempersilakan duduk.

“Bung Obeng mana bung Donal” tanya dr Ala, “mungkin dikostnya dok..., saya sudah sms tapi dia belum balas dok”. dr Ala langsung menghubungi bung donal dan tak lama kemudian bung Donal telah tiba, di tengah perbincangan, dr. Ala mengeluarkan sesuatu yang rupanya kunci kamar hotel Maqna yang kemudian diberikan kepada Obeng. “Bung Obeng ini kunci kamar hotel khusus 2 orang nanti kamu  dengan bung Donal istirahat disana”. “Oh... siap dok” sahut Obeng sedikit tersenyum. Malam itu aku dan temanku tidur di hotel Maqna.


Malampun berlalu, tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 11.00 siang esok harinya ketika aku sadar dari tidurku. Dengan rasa malas, kulirik sebelahku untuk memastikan bung Donal masih tergolek pulas. “Donal…, Bung Donaaal,,,! Teriakku. Hening tak ada jawabam sahutan.  Aku langsung kekamar mandi sekedar bersih-bersih dan bergegas keluar untuk cek out.

Klik…, bunyi pintu saat kutautkan daunnya.


“Hai...! mau cek out ya?”.  Tiba-tiba ada suara merdu menyapaku dari belakang.

Dengan sedikit kikuk akupun membalas sapaan gadis yang belum aku kenal itu. “oooh..Iyaa”. “aku juga mau cek out, kita jalan sama-sama yuk? sahut gadis itu dan aku hanya bisa menganggukan kepala.

“kenalkan, namaku nhur.., aku berasal dari limboto” tiba-tiba gadis tersebut mengulurkan tangannya tuk berkenalan.


Sedikit ragu aku memperkenalkan namaku padanya, “Obeng..” jawabku.

Ada rasa heran bercampur geli tergambar dari raut wajahnya sesaat setelah ku ucapkan namaku.

“kamu kerja apa kuliah...?” Tanya nhur sambil memencet tombol lift.

“kuliah, semester 5 sekarang di Universitas  Negeri Gorontalo. kalau kamu...?”

“aku juga kuliah, tapi aku baru semester 1 lho, dipoltekes Gorontalo”.


Suasana saat itu sudah mulai cair karena aku sudah bisa menguasai perasaanku, tapi aku masih merasa enggan dan malu-malu kepada nhur. Ada rasa ingin berkenalan lebih jauh dengannya namun waktu tak memungkinkan. Maka jalan satu-satunya saat itu adalah dengan meminta nomor handphonenya. Aku mengumpulkan keberanian untuk meminta nomor handphonen dia, tapi aku masih skeptis dengan semua itu dan aku memutuskan harus bisa dapatkan nomor handphonenya.


“owh yaa.., bisa minta nomor handphonenya...?” tanyaku sambil senyum terindah sebisaku. nhur hanya tersenyum sambil mengangkat alis kanan keningnya.


Aku langsung pulang setelah berpisah dengan nhur, hari itu terasa sangat bahagia. Aku merasa bahwa tak ada kebahagian yang pernah ku alami sebelumnya. Nhur selalu ada dalam ingatanku dan sangat sulit untuk menghilangkannya, hari itu benar-benar aku sedang dilanda oleh kasmaran yang telah memunculkan rasa dan rasio dalam diriku.

Ditengah-tengah kebahagiaan yang kurasakan saat itu, aku teringat kata-kata seorang motivator cinta yakni Ronal Frank. Dia mengatakan bahwa tipe wanita ada tiga macam, dia mengibaratkan seperti lampu lalu lintas yakni warna merah, warna kuning, dan warna hijau. Kata-kata dari Ronal Frank inilah yang telah membangkitkan rasa percaya diriku yang tadinya sempat hilang dari sukma.

Aku langsung menghubunginya dan mengajaknya untuk ketemuan di Taman Kota yang kebetulan hari itu, ialah hari rabu, dia tidak menolak ajakanku sehingga tanpa sadar aku melompat-lompat kegirangan bagaikan orang gila yang sedang senang. Aku tidak sabar lagi menunggu waktu malam tiba untuk bertemu dengan sang primadona idaman yang sedang menduduki singasana kerajan hatiku.

Malampun tiba, aku langsung mandi dan bersiap-siap pergi ke tempat janjian akan bertemu, sebelum pukul 19:00 aku sudah berada di tempat janjian. Akupun menghubunginya dan ternyata dia sementara dalam perjalanan, dia juga mengatakan kalau saat itu langit sedang mendung. Ada rasa berdebar, resah, yang membara menunggu kedatangannya, rapalan doa pun kurentangkan, berharap hujan tak berperan sebagai penghalang... dan...
Beberapa menit menunggu akhirnya diapun tiba dan mengagetkanku dengan sapaannya. “Hai… maaf sudah membuat kamu lama menunggu”
“Biasa aja kalli sahutku” sambil tersenyum dan berusaha mungkin perlihatkan sikap wibawa. Dalam hatiku, dia.. malam itu bagaikan bidadari yang turun dari khayangan, tatapan mataku seakan-akan tidak ingin menatap ke arah lain selain kewajahnya yang sangat lugu, cantik, dan rupawan itu. Aku melontarkan kata  lelucon padanya.

“Nhur, kamu itu ternyata orangnya biasa.. tapi, pandangan orang sangat luar biasa memandangmu”. Dia mencubit pinggangku sambil tersenyum sehingga menambah kebahagiaan pada malam itu. Waktu kami malam itu hanya hampir habis bertatap-tatapan sehingga tak terasa waktu telah menujukan pukul 23:50.
Disela perbincangan ringan kami, diam-diam akupun mulai merangkai kata untuk menjadi sebuah kalimat dan paragraf cinta yang romantic tuk ku ungkapkan padanya.

“Nhur disetiap kali kamu mengedipkan mata dan tersenyum, terasa ada yang berdebar dalam jiwaku sehingga membuat pikiranku tidak mampu lagi berpikir untuk  merangkai kata dan kalimat cinta yang bukan sekedar kata-kata melainkan air mata pun tak sangup menerjemahkannya, sehingga aku hanya bisa mampu mengucapkan satu kalimat indah yang tidak bisa tertandingi oleh kata apapun”.
Tak sadar tenggorokankupun terasa kering setelah ku ucapkan rangkaian kata itu, kulihat dia tertegun dan terus menatapku.

Sehalus mungkin, kuraih jari jemarinya dan kumulai sampaikan rasaku lewat rangkaian kalimat yang tadi terhenti.
“Aku berbicara di bawa langit dan bintang yang indah, berada di atas bumi pertiwi dan suasana malam yang sangat indah dan disaksikan oleh tuhanku yang memiliki banyak nama dan disembah dengan berbagai macam cara, aku hanya ingin seluruh alam jagad raya akan menjadi saksi apa yang aku katakan malam ini...”.

“kata ini, akan kupersembahkan untukmu dalam bingkai perasaan dan disaksikan oleh cahaya bulan.. I love U”.
“Aku mencintaimu bukan sekedar rasa suka dan sayang, aku merasa tanpa kamu, hidup ini tidak lengkap”.
Kemudian aku berhenti berbicara, sekali lagi kutatap wajahnya tuk sekedar melihat ekspresi wajahnya. Hening…..

Saat itu Nhur hanya tersenyum yang kemudian dan balas meremas ke dua jari jemari tanganku sambil mengucapkan kalimat yang tidak pernah aku bayangkan....
Dia mengatakan
“I LOVE U TOO... “
hatiku sangat senang, bahagia bahagia, seluruh isi dadaku terasa bergetar, dan aku langsung mengecup keningnya sambil memeluknya dengan dekapan cinta kasih sayang.

Akupun sungguh-sungguh mencintai dan menyayangimu, aku berharap kamu akan selalu berada disetiap langkah kehidupanku... tetaplah bersamaku ucap bibirnya yang saat itu kulihat bergetar. Aku menjawabnya dengan kalimat-sakti.
“Nhur, seberat apapun beban tantangan dan rintangan yang kamu hadapi, percayalah aku akan selalu hadir menemani kamu”.

“Karena aku tercipta dalam waktu, untuk mengisi waktu, selalu memperbaiki diri disetiap waktu, dan semua waktuku untuk mencintai, menyayangi dan mengasihimu. Aku terlahir ke dunia ini untuk mencintaimu, dan kamu terlahir untuk aku cintai. Berada disisimu saat ini mengajarkanku apa arti kenyamanan yang sempurna, kamu bagaikan hujan dan aku hanyalah bumi yang gersang yang kamu sirami dengan rintik-rintik cinta dan kebahagiaan”.

saat itu dia hanya bisa tersenyum manis mendengar kata-kata dari mulutku sambil mengatakan “gombal” aku merasa malam itu, dunia hanya milikku dan dia.
malam sudah larut, kami harus pulang ke tempat tinggal masing-masing. Tapi aku merasa aneh ada yang aneh dengan sikap dia disaat aku mengajaknya pulang sehingga aku bertanya kalau apa yang sedang dia piklirkan...
“kamu kenapa nhur”?
“aku takut pulang kak”.
Ternyata dia takut pulang kerumahnya karena sudah pukul 02:13 malam.

Aku mulai berpikir untuk mencari kos-kosan putri teman-temanku, tapi semua usahaku mentok sebab semua kos teman-temanku cewek rata-rata tutup pukul 00:00 malam. aku sudah kehabisan akal malam itu, dalam kebingungan, dia mengatakan hal yang justru menambah kebinguganku.“sayang gimana kalau kita tidur di penginapan saja malam ini” sedikit terkesiap aku menolak ajakannya, namun Nhur tetap terus memaksa.

Karena aku kasihan, akhirnya... BERSAMBUNG. tunggu cerita selanjutnya
Komentar

Tampilkan

Terkini

Tips & Trik

+