Iklan


Menu Bawah

NASIONALISME DI SAMUDRA PASIFIK

Wednesday, October 17, 2018, 8:12:00 PM WIB Last Updated 2018-10-17T13:12:07Z

Penulis : Rifyan R. Saleh
Ketua Kerukunan Pelajar Mahasiswa Indoneia Pohuwato (KPMIP) periode 2017-2018

(Narasi Kisah Nyata TKI - Gorontalo Korban Tindak Kekerasan di Negeri Ginseng)

Indonesia sebagai negara dengan 17.504 pulau menyimpan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang melimpah. Kekuatan ini tidak mampu mengubah Indonesia menjadi negara maju dan justru semakin terpuruk dalam berbagai aspek karena ketidak mampuan kita mengelolah sumber daya yang ada.

Ekonomi, sosial, budaya, politik dan hukum kita berusaha mengasumsi dari negara-negara maju namun tidak mampu di definisikan dengan benar sehingga menimbulkan tafsiran dan pelaksaan yang menimbulkan ketimpangan dan penyimpangan di bangsa ini.


Keraguan terhadap eksistensi negara dan pelaksanaan bernegara menimbulkan kekacuan berfikir dan narasi-narasi pesimisme dari masyarakat secara umum semakin meningkat. Nasionalime rakyat Indonesia hari ini terus terdegradasi dengan kekuatan westernisasi di era milenial, wacana menyambut bonus demografi pun bisa jadi hanya wacana untuk mengaktifkan imajinasi masyarakat yang terjerat permainan dan rancangan konspirasi serta propaganda yang sulit di identifikasi.
Demokrasi yang bertujuan untuk terlaksananya kekuatan rakyat atas segala bentuk kekuasaan kenegaraan pun di kelola dan dimainkan untuk kepentingan kelompok-kelompok korporasi yang bermain di balik tirai partai yang mengisi era revormasi hari ini. Sehingga keterwakilan suara tuhan melalui rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat tak lagi ada di bangsa yang besar ini. Rezim boleh berganti, nahkoda negara pun tujuh kali berganti wajah namun hanya sebagai piong dan boneka kekuatan asing. Konstitusi pun menjadi alat pelindung kekuasaan rezim-rezim yang duduk di bangku pemerintahan hari ini sehingga kelaparan, kemiskinan dan kesengsaraan meningkat secara drastis dan dramatis.


Kisah heroik "nasionalisme di samudra pasifik" ini pun berawal dari kegersangan penghidupan di tanah subur yang di rampas kolonial modern berwajah oriental yang bekerjasama dengan gerbong segitiga bermata satu. Perjalanan yang diperankan oleh 14 orang anak rantau dari desa ini bukanlah kisah fiktif atau pencitraan untuk sebuah elektabilitas demi sebuah kepentingan. Ini adalah fakta yang penulis tulis sebagai penghargaan atas sebuah perjalan panjang pejuang-pejuang yang melawan kemelaratan namun disengsarakan dinegeri ginseng Korea Selatan.

Pengangguran yang tercipta akibat penyempitan lapangan pekerjaan dan penyumbatan pengelolaan SDM di usus besar kenegaraan menimbulkan kerisauan pemuda-pemuda di daerah sehingga keputusan merantau demi mencari sesuap berlian di negeri orang pun menjadi opsi yang berani di ambil.


Para alumni Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) 1 Popayato di seleksi untuk mengisi post-post hasil MOU antara pihak sekokah dan agent penyedia jasa TKI ke luar negeri. Terpilih 14 orang terbaik putra alumni sekolah yang terpikat tawaran kerja dan gaji tinggi hasil sosialisasi di sekolah sehingga ekspektasi pun menjulang berharap perubahan status sosial secara vertikal. Perjalanan pun dimulai setelah semua berkas disiapkan untuk melengkapi persyaratan menuju negeri mimpi penuh harapan. Sebulan di Jakarta untuk mendapatkan pendidikan maritim dan melengkapi berkas keluar negari pun dilakukan dengan giat, sabar dan ikhlas agar semua selesai sesuai waktu yang di tetapkan.

Hiruk pikuk ibu kota selama sebulan dengan persedian seadanya dijalani tanpa keluhan karena terbungkus semangat perubahan. Semua semangat dan saling memberi semangat, ketika ada satu orang kesulitan semua membantu dan mempermudah keadaan. Sokongan keluarga dengan materil dan imateril selalu tercurahkan bagai air terjun yang mengalir deras memberi semangat dan motivasi untuk bergerak.


Keberangkatan pun di jadwalkan setelah semua di rampungkan, 14 orang pemuda ini pun bersiap berangkat dengan 1001 mimpi yang ingin di buktikan. Dari Jakarta menuju Korea Selatan akhirnya diberangkatkan dengan pesawat dari Bandara Soekarno - Hatta, selama di perjalanan semua terasa indah dan menawan dengan cerita baru yang akan segera di mulai. Namun sedikit kecurigaan timbul dibenak di beberapa anggota 14 pemuda ini, ketika di bandara sebelum berangkat menanda tangani kontrak kerja yang belum sempat di baca akibat di desak keberangkatan pesawat menurut para agent akan segera lepas landas. Namun semua di abaikan karena pengalaman pertama merantau keluar negeri dan ekspektasi tinggi di negeri ginseng. Setibanya di Bandara Korea Selatan jemputan menuggu dan langsung membawa para pemuda menuju kantor perusahaan.

Situasi masih terkendali selain bahasa yang terkendala. Menjadi awak kapal di kapal ikan pun dimulai, berlayar munuju samudra terbesar di dunia. Namun kenyataan mulai berbeda dengan ekspektasi ketika di tengah lautan lepas kontrak kerja baru bisa di baca yang ternyata tak sesuai pembicaraan saat sosialiasi. Gaji rendah bahkan potongan 100% menjadi bencana yang terlanjur disepakati di atas kertas yang telah di tanda tangani. Tidak ada solusi, komunikasi yang terputus dengan pihak agent dan protes yang tidak di gubris memaksa sabar menjadi ikhlas.

Pekerjaan yang semakin berat, 36 jam tanpa istrahat, makanan dan minuman yang tidak manusiawi serta ancaman dan pemukulan menjadi rentetan peritiwa yang menghiasi di tengah samudra. Hingga di penghujung bulan kedua setelah bekerja semua tak lagi mampu dan konflik tidak mampu lagi di redam. Sosok superior dari jiwa-jiwa yang di khianati bangkit melawan prajurit komunis awak kapal. Hingga 14 pemuda ini mengancam membakar kapal dengan segala resiko yang tak lagi di pertimbangkan. Siap mati membela harkat dan martabat bangsa akbiat putra bangsa disiksa selama berhari-hari di atas kapal. Dengan mengibarkan BENDERA MERAH PUTIH diatas kapal menyimbolkan perlawan dan respon atas penindasan yang di lakukan. Sampai pada akhirnya mereka semua di pulangkan tanpa di gaji sepeser pun setelah bekerja dua bulan di atas kapal. Hanya membawa kerusakan fisik serta trauma fisikologi mereka kembali tanpa uang di tangan selain tiket kepulangan.


Kerugian yang sangat banyak ini mereka ikhlaskan asalkan terlepas dari siksaan dan segera kembali ke negeri kelahiran. Namun kesialan masih terasa ketika rombongan meninggalkan 8 orang yang transit di bandara Hongkong akibat kesalahan peletakan tanggal di tiket pesawat oleh pihak maskapai. Kelaparan selama dua hari di bandara menjadi cerita pilu yang menamba kisah heroik ini. KBRI yang terlambat memediasi persoalan membuat penderitaan semakin terasa. Di hari ketiga barulah pihak KBRI merespon keluhan mereka setelah didesak dari Indonesia, hingga akhirnya mereka di pulangkan ke Indonesia.

Bendera yang di kibarkan ditengah lautan pun dapat dengan bebas melambai ditanah leluhur yang penuh kepalsuan.

Namun kecintaan terhadap negara dan bangsa ini terlalu besar hingga mereka berani melawan dan menyerang setelah nama bangsa di hina dan di injak-injak dengan penyiksaan terhadap pemuda Indonesia di atas kapal.

Dari kisah ini kita perlu menyadari bahwa banyak korban akibat kejahatan jabatan para pemangku jabatan namun kecintaan terhadap bangsa menutupi dosa para penjilat di tanah NKRI. Nasionalisme 14 pemuda ini tak perlu diragukan, yang perlu di ragukan adalah pejabat korup dan penjilat kekuasaan untuk meningkatkan kekayaan pribadinya.

Salam NKRI
NKRI harga mati !!!

Penulis : Rifyan R. Saleh Ketua Kerukunan Pelajar Mahasiswa Indoneia Pohuwato (KPMIP) periode 2017-2018

Komentar

Tampilkan

Terkini

Tips & Trik

+